Lingkungan

Korban Banjir Aceh Barat Masih Menunggu Huntara di Tengah Janji Pemerintah

Aceh Sejumlah korban banjir di Kabupaten Aceh Barat masih belum menempati hunian

sementara (huntara), meski waktu telah berlalu sejak bencana terjadi. Di tengah kondisi tersebut, pemerintah menyatakan tetap memproses usulan bantuan, termasuk penambahan unit huntara di wilayah lain.

Warga hidup dalam ketidakpastian

Di Kecamatan Pante Ceureumen, warga terdampak banjir masih bertahan dengan kondisi terbatas. Sebagian dari mereka kehilangan rumah akibat terjangan banjir dan hingga kini belum mendapatkan tempat tinggal pengganti.

Ansari, warga Gampong Lawet, mengatakan ia dan keluarganya terpaksa menumpang di rumah kerabat. Situasi ini, menurutnya, tidak hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga menimbulkan tekanan karena belum adanya kejelasan.

“Sudah sekian lama, tapi kami belum juga bisa menempati huntara,” ujarnya, Rabu (8 April 2026).

Sejumlah warga mempertanyakan lambatnya realisasi bantuan. Huntara yang diharapkan menjadi solusi cepat justru belum tersedia saat dibutuhkan.

“Kami hanya ingin kepastian. Jangan sampai terus menunggu tanpa kejelasan,” kata Ansari.

Pemerintah proses usulan tambahan

Di sisi lain, Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRR) menyatakan tetap mengakomodir kebutuhan hunian bagi korban bencana.

Kepala Posko Wilayah Satgas PRR, Safrizal ZA, mengatakan pihaknya menerima usulan penambahan 97 unit huntara dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Usulan tersebut diperuntukkan bagi warga yang sebelumnya mengungsi ke luar daerah dan kini kembali.

“Ketika kondisi mulai normal, masyarakat kembali dan melapor membutuhkan rumah. Karena itu diusulkan kembali untuk dibangun,” kata Safrizal di Aceh Besar, Selasa.

Menurutnya, usulan tersebut akan diproses dengan terlebih dahulu melakukan verifikasi lapangan, termasuk pencocokan data penerima serta penilaian lokasi pembangunan agar tidak berada di kawasan rawan bencana.

Kendala material dan waktu pengerjaan

Safrizal menjelaskan, pembangunan huntara membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat pekan. Namun, proses tersebut menghadapi kendala, terutama kenaikan harga bahan baku seperti besi dan keterbatasan vendor.

“Perubahan harga satuan membutuhkan proses tambahan. Kami mencari vendor yang mampu bekerja sesuai standar,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah tidak akan menutup pengajuan bantuan bagi daerah lain yang masih membutuhkan, termasuk huntara dan dana tunggu hunian (DTH).

Kesenjangan antara kebijakan dan realisasi

Meski pemerintah menyatakan komitmen untuk terus memproses bantuan, kondisi di lapangan menunjukkan sebagian korban masih harus bertahan tanpa hunian yang layak.

Di Aceh Barat, ketidakpastian menjadi persoalan utama. Tanpa kepastian waktu realisasi huntara, warga terdampak banjir masih bergantung pada bantuan keluarga dan berharap adanya langkah konkret dalam waktu dekat.

Sumber:

Antara News dan Atjeh Terkini

Fajri

Recent Posts

Ketua BEM Ekonomi dan Bisnis UTU: Pelaporan Jhony Howord oleh PT SCY adalah Bentuk Pembungkaman terhadap Aktivis (11/07/26)

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Teuku Umar (BEM Ekonomi dan Bisnis…

5 hari ago

Prof. Dr. Nyak Amir Terpilih Rektor Universitas Teuku Umar Periode 2026-2030

Raih 24 Suara atau 85,71 Persen dalam Pemilihan Senat Prof. Dr. Nyak Amir, S.Pd., M.Pd.…

3 minggu ago

UKM Olahraga CUP Se-Aceh 2026 Digelar di Meulaboh, 210 Peserta Bertanding di Catur dan Mobile Legends

Meulaboh – UKM Olahraga Universitas Teuku Umar (UTU) menyelesaikan penyelenggaraan UKM Olahraga CUP Se-Aceh 2026…

4 minggu ago

Potensi Batubara Raksasa Barat Selatan Aceh: Berkah Ekonomi atau Bom Waktu Lingkungan?

Meulaboh – Cadangan batubara di wilayah Barat Selatan Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Barat dan sekitarnya,…

1 bulan ago

Kontroversi Pembakaran Gedung Fakultas Pertanian USK: Bentrok Mahasiswa Berujung Kerugian Miliaran

Banda Aceh – Gedung laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) di Banda Aceh hangus…

2 bulan ago

PUPR Aceh Barat Operasikan AMP Mini Atasi Jalan Rusak Akibat Hauling Batubara

Meulaboh – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Aceh Barat mengoperasikan Asphalt Mixing…

2 bulan ago

This website uses cookies.