Banda Aceh – Gedung laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) di Banda Aceh hangus terbakar menyusul bentrokan antarmahasiswa Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik pada dini hari Kamis, 21 Mei 2026. Insiden itu menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas akademik penting, menghanguskan sedikitnya enam kendaraan, dan menimbulkan kerugian material diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Polisi telah menetapkan dua mahasiswa Fakultas Teknik sebagai tersangka.
Peristiwa bermula sekitar pukul 04.00 WIB ketika sekelompok mahasiswa mendatangi area Fakultas Pertanian, memicu pengrusakan dan pembakaran. Api dengan cepat melalap gedung laboratorium, ruang auditorium, serta fasilitas penelitian lainnya. Selain itu, pos satpam dan beberapa kendaraan roda dua serta roda empat di sekitar lokasi ikut hangus. Petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Banda Aceh mengerahkan enam unit armada untuk memadamkan api yang berhasil dikendalikan sekitar pukul 06.00 WIB.
Kepolisian Resor Kota Banda Aceh (Polresta) langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa puluhan saksi. Pada 30 Mei 2026, polisi menetapkan dua mahasiswa Fakultas Teknik berinisial WS (22) dan MAM (20) sebagai tersangka atas dugaan pengrusakan dan pembakaran.
“Benar (2 tersangka). Setelah pemeriksaan terhadap 18 saksi dan dilakukan gelar perkara, kami menetapkan WS dan MAM sebagai tersangka dalam perkara pengrusakan dan pembakaran Fakultas Pertanian USK serta fasilitas lainnya,” sebut Dizha, dikutip dari CNN Indonesia, (30/05/26).
Bentrok ini diduga berakar dari ketegangan berkepanjangan antarkelompok mahasiswa yang memuncak pasca-aksi demonstrasi penolakan kebijakan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) beberapa hari sebelumnya. Konflik sempat melibatkan saling serang dan provokasi di sekitar kampus Darussalam.
Rektor USK Prof. Mirza Tabrani menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut. Ia menekankan pentingnya menjaga kondusivitas kampus sebagai pusat pendidikan dan penelitian.
“Kami sangat terpukul atas rusaknya sejumlah fasilitas pendidikan, terutama laboratorium Fakultas Pertanian yang memiliki nilai historis dan ilmiah tinggi. Kami menunggu hasil investigasi aparat penegak hukum dan mengajak seluruh sivitas akademika menahan diri serta menjaga keamanan kampus,” sebut Prof. Mirza Tabrani, dikutip dari CNN Indonesia, (22/05/26).
Kerugian materiil akibat kejadian ini belum diumumkan secara resmi secara lengkap oleh pihak universitas. Namun, estimasi awal dari sumber di lapangan menyebutkan kerusakan pada peralatan laboratorium, dokumen penelitian, dan bangunan bisa mencapai puluhan miliar rupiah.
Fakultas Pertanian USK merupakan salah satu fakultas tertua di universitas negeri terkemuka di Aceh ini, dengan laboratorium yang mendukung riset pertanian tropis dan ketahanan pangan daerah.
Pakar pendidikan dari Universitas Indonesia, Dr. Anies Baswedan (bukan mantan Gubernur), dalam konteks serupa pernah menyatakan bahwa konflik internal kampus sering mencerminkan kegagalan manajemen mediasi dan pendidikan karakter. Meski bukan pernyataan langsung terkait USK, hal ini relevan dengan pola yang berulang di beberapa perguruan tinggi.
“Konflik antarmahasiswa yang berujung kekerasan menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem pengawasan dan resolusi konflik di tingkat kampus. Ini bukan hanya soal kerusakan fisik, tapi juga hilangnya kesempatan belajar dan penelitian bagi ratusan mahasiswa,” sebut seorang pakar pendidikan tinggi nasional, dikutip dari laporan Kompas, (23/05/26).
Polresta Banda Aceh terus mendalami kemungkinan adanya dalang di balik bentrokan. Penyidik menyita barang bukti berupa pecahan botol yang diduga bom molotov serta rekaman CCTV. Hingga kini, motif utama masih didalami, termasuk apakah ada unsur provokasi eksternal atau semata-mata konflik internal antarkelompok.
Insiden ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang keamanan kampus di tengah dinamika sosial politik Aceh yang kerap memengaruhi lingkungan akademik. USK, sebagai universitas unggulan di wilayah rawan konflik historis, kerap menjadi barometer stabilitas pendidikan tinggi di Aceh.
Pihak rektorat telah mengambil langkah sementara dengan menangguhkan sebagian kegiatan praktikum di Fakultas Pertanian dan menyediakan relokasi fasilitas darurat. Dua unit sepeda motor baru juga telah diserahkan kepada satpam yang kehilangan kendaraan dinas mereka.
Kasus ini menjadi sorotan nasional karena menunjukkan kerapuhan harmoni sivitas akademika di salah satu perguruan tinggi terbaik di Sumatera. Analisis sementara menunjukkan bahwa tanpa intervensi cepat dan tegas dari pihak universitas serta pemerintah daerah, potensi konflik serupa bisa terulang, terutama saat isu-isu politik lokal memanas.
Sementara proses hukum berjalan, masyarakat Aceh menanti komitmen nyata dari seluruh pihak untuk memulihkan iklim akademik yang kondusif. Pembakaran gedung pertanian USK bukan sekadar kerusakan bangunan, melainkan pukulan bagi kemajuan riset pertanian di provinsi yang mengandalkan sektor agribisnis ini.
Meulaboh – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Aceh Barat mengoperasikan Asphalt Mixing…
ACEH BARAT — Rangkaian kegiatan HIMMAFORIA 2026 yang berlangsung selama tiga hari tiga malam, pada…
Aceh Barat – Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025…
Aceh Barat — Pelaksanaan HIMMAFORIA 2026 di Gedung Olahraga dan Seni (GOS) Aceh Barat selama…
Meulaboh, Aceh – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Aceh Barat kini berpacu…
Banda Aceh - Lebih dari 15 tahun silam, Aceh meluncurkan Program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA)…
This website uses cookies.