Tradisi Bloh Apui dari Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, merupakan salah satu praktik budaya yang memadukan unsur seni, spiritualitas, dan kepercayaan masyarakat dalam satu rangkaian ritual yang khas. Dikenal melalui atraksi berjalan di atas bara api, tradisi ini tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi juga bagian dari praktik sosial dan keagamaan yang telah diwariskan lintas generasi.
Dalam pelaksanaannya, Bloh Apui menampilkan peserta yang berjalan di atas bara api tanpa alas kaki, diiringi tabuhan rapai dan tiupan serune kale. Prosesi ini didahului oleh rangkaian doa dan zikir yang diyakini menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan para peserta.
Catatan sejarah menyebutkan, Bloh Apui mulai dikenal sejak sekitar tahun 1945. Tradisi ini dipimpin oleh Tgk. Husen atau Tu Bumei Husen, seorang Teungku Meunasah di Gampong Leukeun. Selain sebagai tokoh agama, ia juga dikenal sebagai guru pengajian dan memiliki kemampuan supranatural. Dari sosok inilah praktik Bloh Apui diwariskan kepada keluarga dan generasi berikutnya.
Pada masa lalu, Bloh Apui merupakan bagian dari ritual meujalateh yang digelar pada bulan Safar. Ritual tersebut dilakukan sebagai bentuk tolak bala, dengan rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tujuh malam berturut-turut. Puncaknya ditandai dengan pelaksanaan Bloh Apui, yang kemudian ditutup dengan kanduri apam, yakni tradisi makan bersama masyarakat.
Ritual meujalateh dimulai setelah salat Magrib berjamaah. Warga, yang terdiri dari laki-laki dewasa, pemuda, dan anak-anak, berjalan mengelilingi gampong sambil membawa obor serta melantunkan doa dan zikir. Di lokasi tertentu, bara api telah dipersiapkan oleh Teungku Meunasah, yang sebelumnya membakar kayu hingga menjadi arang.
Saat rombongan tiba, mereka berjalan melintasi bara api secara bergantian. Prosesi ini berlangsung tanpa menunjukkan keraguan, dan diyakini tidak menyebabkan luka bakar. Setelah selesai, kegiatan ditutup dengan salat Isya berjamaah dan makan bersama.
Seiring waktu, praktik tersebut mengalami perubahan. Meujalateh, Bloh Apui, dan kanduri apam kini sering dilakukan secara terpisah. Perubahan ini dipengaruhi oleh perkembangan sosial dan berkurangnya minat generasi muda terhadap tradisi lokal, yang kerap dianggap tidak lagi relevan.
Selain sebagai ritual budaya, Bloh Apui juga diyakini memiliki manfaat kesehatan. Masyarakat setempat percaya bahwa berjalan di atas bara api dapat membantu melancarkan peredaran darah, mengurangi stres, dan meredakan nyeri tubuh. Praktik ini kerap disamakan dengan terapi refleksi kaki, meskipun dilakukan dalam bentuk yang lebih ekstrem.
Pelaksanaan Bloh Apui membutuhkan persiapan yang matang, baik secara teknis maupun spiritual. Kayu laban atau bak mane dikumpulkan dan dibakar hingga menjadi arang, yang kemudian dikeringkan sebelum digunakan. Selain itu, bahan lain seperti jeruk purut dan tanah juga dipersiapkan.
Seluruh bahan tersebut diritualkan oleh seorang pawang melalui doa dan zikir yang dilakukan selama beberapa hari. Air yang telah diritualkan kemudian digunakan dalam proses pertunjukan, termasuk untuk menyiram bara api agar tetap menyala.
Dari sisi pertunjukan, Bloh Apui diawali dengan lantunan dikee saleum sebagai bentuk penghormatan, dilanjutkan dengan shalawat dan zikir tauhid. Irama rapai yang mengiringi prosesi ini secara bertahap meningkat, menciptakan suasana yang semakin intens.
Pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan atraksi debus, di mana para pemain menunjukkan kekebalan tubuh menggunakan senjata tajam seperti parang, pisau, dan rencong. Puncak acara terjadi ketika bara api dibawa ke arena, disertai lantunan zikir yang merujuk pada kisah Nabi Ibrahim yang selamat dari api.
Pada tahap ini, peserta mulai berjalan di atas bara api secara bergantian. Prosesi berlangsung selama sekitar 15 hingga 20 menit, tergantung jumlah peserta yang terlibat. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan shalawat dan keluarnya seluruh peserta dari arena secara tertib.
Dalam pelaksanaannya, Bloh Apui melibatkan berbagai peran, termasuk pemimpin zikir (syahi), pemain rapai, khalifah debus, pemain debus, pawang api, serta sejumlah pembantu. Keterlibatan banyak pihak menunjukkan bahwa tradisi ini merupakan praktik kolektif yang terorganisir.
Di tengah perubahan zaman, keberlangsungan Bloh Apui menghadapi tantangan. Berkurangnya partisipasi generasi muda menjadi salah satu faktor yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi kelestarian tradisi ini. Meski demikian, pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia menjadi langkah penting dalam upaya pelestarian.
Bagi masyarakat Aceh Barat, Bloh Apui bukan sekadar pertunjukan berjalan di atas api. Tradisi ini mencerminkan hubungan antara kepercayaan, budaya, dan kehidupan sosial yang telah terbangun selama puluhan tahun. Di tengah modernisasi, tradisi ini kini berada pada titik penting: bertahan sebagai identitas budaya, atau perlahan ditinggalkan oleh generasi berikutnya.
MEULABOH — Deretan angka miliaran rupiah kini terpampang di layar Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE)…
MEULABOH — Setelah terkungkung isolasi akibat terjangan banjir besar November 2025 lalu, warga di pedalaman…
Jakarta, 30 Maret 2026 — Sebuah insiden kekerasan di kantor Polda Metro Jaya menimbulkan pertanyaan…
MEULABOH — Deru mesin penggilas tanah mulai memecah keheningan di jalan akses menuju Pusat Kesehatan…
MEULABOH — Di sudut-sudut kota Meulaboh, "titik hitam" sampah liar telah lama menjadi pemandangan yang…
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mulai melakukan perbaikan…
This website uses cookies.